Musik merupakan salah satu seni yang mana sering kita jumpai di mana-mana. Hampir bisa dikatakan di setiap tempat umum terlebih pada suatu toko atau tempat penjualan akan terdapat musik yang di putar. Hal itu dipercaya banyak orang dapat menjadikan para pengunjung lebih rileks dan betah berlama-lama dalam melakukan aktivitas berbelanja ataupun menikmati makanan yang di sajikan. Maka tidak heran lagi industri hiburan dibidang musik tidak akan mati seiring zaman. Namun begitu, mereka tetap menyesuaikan semuanya sesuai dengan perubahan zaman yang semakin ke depan semakin ter-update. Bagi yang sudah mencintai bidang musik dari waktu-waktu yang lalu, pastilah sudah tidak asing lagi dengan keberadaan majalah musik. Majalah musik merupakan salah satu bentuk promosi dari band tersendiri.

Melalui kemampuan media massa yang selalu menyuguhkan review, artikel opini, ulasan mengenai band serta liputan konser, sedikit banyak bisa membujuk para pembaca nya untuk tertarik pada band yang sedang di promosikan. Maka media massa ini pernah menjadi trend pada masanya untuk melejitkan popularitas suatu band. Pada masanya juga, para penggemar menunjukkan rasa ke loyal-an terhadap idola nya dengan rajin mengoleksi album serta majalah-majalah mengenainya. Dari sini bisa kita amati, bahwa media memang mengambil peran yang penting. Sasarannya yang terfokus pada khalayak luas membuat media serasa memberikan definisi tentang apa yang dianggap layak dan tidak serta mana yang direkomendasikan atau tidak, bahkan dalam beberapa kejadian media mampu menciptakan sebuah trend. Budaya media pun akhirnya mendominasi kita dalam banyak aspek.

Namun, pada era digitalisasi ini, sudah jelas semua berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dalam berpromosi. Maka sudah bukan jamannya lagi majalah cetak beredar, mungkin beberapa masih mempertahankan eksistensinya, namun lebih banyak lagi yang tumbang. Berpindahnya kebiasaan banyak orang yang sekarang lebih menikmati sesuatu secara simpel saja melalui alat digital mengakibatkan media cetak yang membahas mengenai musik, seperti majalah, tabloid, maupun koran mengalami penurunan. Menurut data, pada tahun 2017 masih terdapat 1.254 penerbitan, namun berselang empat tahun kemudian, angka itu anjlok menjadi 850 penerbitan saja. Sebagai contoh, harian Sinar Harapan yang telah berdiri sejak 1961 lalu mulai menghilang pada tahun 2016. Hal ini dikarenakan mereka memutuskan untuk menghentikan penerbitan dan fokus membagikan berita melalui online. Iklan secara online dan prmosi secara online lebih efektif di masa sekarang ini seperti situs slot online dan situs game online banyak yang memasang iklan di facebook ketimbang di majalah.

Berhenti nya beberapa majalah cetak musik bukanlah suatu akhir dari para pecinta musik yang rajin memantau update dari dunia permusikan. Sekarang sudah banyak dari mereka yang mambuka situs web agar para pembaca bisa mengakses berita yang mereka sajikan dengan mudah dan lebih efektif. Sebagai contoh, majalah musik Indonesia yang sangat berpengaruh pada jamannya yaitu pada sekitar tahun 1960 hingga 1970-an dengan nama Aktuil. Dengan bantuan dari institusi yang dibawahi oleh UNESCO, ia mampu mendigitalisasikan secara rapih arsip dari majalah Aktuil dan bisa diakses dengan mudah lewat web Museum Musik Indonesia. Selain dalam bentuk majalah online, para pembaca dan penggemar juga bisa memantau aktivitas promosi idola nya melalui media sosial. Sekarang ini sudah menjamur dilakukannya promosi melalui media sosial yang sekiranya memiliki banyak pengguna, seperti Instagram, tiktok, twitter, serta beberapa situs musik online tertentu. Pengaplikasiannya pun lebih beragam lagi, mereka tidak hanya menerbitkan berita maupun artikel saja namun lebih ke video pendek yang menghibur banyak penontonnya. Video pendek, atau artikel yang di terbitkan di beberapa media sosial ini ditenggarai merupakan cara yang benar-benar ampuh dalam berpromosi, para penggemar pun juga terhibur dengan sedikit banyak konten yang tersedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *